
Jakarta, 9 Juni 2026– Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Masa Khidmat 2026–2028 resmi dilantik dalam acara yang berlangsung di Aula Lantai 8 Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Selasa (9/6). Pelantikan dilakukan oleh Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), Prof. H. Ainun Na’im, MBA., Ph.D.
Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi penguatan tata kelola dan sinergi antar Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat di era transformasi global.
Dalam sambutannya, Prof. Ainun Na’im menegaskan pentingnya kolaborasi antar-PTNU untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi NU dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembangunan bangsa. Menurut beliau, PTNU harus mampu menjadi pusat pengembangan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Adapun susunan pengurus Forum Rektor PTNU Masa Khidmat 2026–2028 berdasarkan Surat Keputusan Nomor 157/PB.17/A.II.01.99/22/05/202 Tentang Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang dilantik adalah sebagai berikut:
- Ketua: Prof. Dr. H. Nasruddin Suyuti, M.Si., M.I.Kom.
- Wakil Ketua: Prof. Dr. Ir. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM.
- Sekretaris: Dr. Abu Amar Bustomi, M.Si.
- Bendahara: H. Supendi Sami’an, S.E., M.M.
- Koordinator Wilayah Sumatra: Dr. Ibnu Affan, S.H., M.Hum.
- Koordinator Wilayah Kalimantan: Prof. Dr. Ir. Hamdani, S.T., M.Cs., IPM.
- Koordinator Wilayah Sulawesi, Bali-Nusa, dan Maluku: Prof. Dr. H. Lahaji Haedar, M.Ag.
- Koordinator Wilayah Jawa: Dr. M.H. Ali Imron, S.E., M.Si.
Bersamaan dengan pelantikan Forum Rektor PTNU, LPTNU juga secara resmi meluncurkan Pusat Riset Unggulan PTNU “CONNECT LPTNU”, sebuah konsorsium riset strategis yang dirancang untuk mengonsolidasikan kepakaran akademik, jaringan pesantren, kapasitas perguruan tinggi, pemerintah, industri, komunitas, serta mitra global dalam satu ekosistem kolaboratif.
CONNECT LPTNU memosisikan riset sebagai bentuk khidmah ilmiah yang menghasilkan berbagai luaran strategis, mulai dari policy brief, publikasi ilmiah, hak kekayaan intelektual (HKI), produk inovasi, prototipe teknologi, model pemberdayaan masyarakat, dashboard kebijakan, hingga replikasi program yang berdampak luas.
Program ini mengusung model kolaborasi Lead Center – Supporting Center – Shared Impact, di mana setiap pusat riset memiliki mandat tematik yang spesifik sekaligus saling mendukung dalam mewujudkan transformasi pendidikan, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.
Tujuh Pusat Riset Unggulan PTNU yang diluncurkan meliputi:
- Center for Maritime Adaptation, Resilience, Innovation, and Sustainability (C-MARIS) di Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Barat
- Center for Social Harmony and Religious Ethics (C-SHARE) di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta
- Center for Digital Innovation and Creative Enterprise (C-DICE) di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta
- Center for Agroindustry Growth, Research, and Optimization (C-AGRO) di Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan
- Center for Green Resilient Infrastructure Development (C-GRID) di Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur
- Center for Health Equity and Applied Life Sciences (C-HEAL) di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat
- Center for Eastern Archipelago Studies and Transformation (C-EAST) di Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara
Peluncuran CONNECT LPTNU merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi PTNU sebagai aktor penting dalam ekosistem riset nasional. Melalui konsorsium ini, PTNU diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat, pesantren, dunia usaha, dan pemerintah.
Dengan pelantikan kepengurusan baru serta peluncuran tujuh pusat riset unggulan tersebut, LPTNU menegaskan komitmennya bahwa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran, tetapi juga menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, penggerak inovasi, penguat kebijakan publik, pendamping masyarakat dan pesantren, serta penghubung jejaring riset nasional dan global yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa.

